rahman's blog

mencari dan memberi yang terbaik

Dokumen standar sebagai referensi ilmiah (5)

 

Standar Asosiasi

 

ASTM (American Society for Testing and Materials)

American Society for Testing and Materials atau disingkat ASTM adalah salah satu lembaga standar dari kelompok asosiasi. ASTM International merupakan lembaga standar terkemuka dan diakui secara global dalam pengembangan standar internasional sukarela. Saat ini, sekitar 12.000 standar ASTM digunakan di seluruh dunia untuk meningkatkan kualitas produk, meningkatkan keselamatan, memfasilitasi akses pasar dan perdagangan, dan membangun kepercayaan konsumen. ASTM International didukung oleh lebih dari 30.000 pakar top dunia dan pelaku bisnis profesional yang mewakili 150 negara. Bekerja dalam proses yang terbuka dan transparan dan menggunakan infrastruktur elektronik ASTM yang canggih, anggota ASTM memberikan metode uji, spesifikasi, panduan, dan praktek-praktek yang mendukung industri dan pemerintah di seluruh dunia.

  • ASTM dibentuk pada tahun 1898 oleh ahli kimia dan insinyur dari Pennsylvania Railroad. Pada saat pendiriannya, organisasi ini dikenal sebagai bagian yang mewakili Amerika dari Asosiasi Internasional untuk Pengujian dan Material (ASTM). Pada tahun 2001, ASTM ini dikenal sebagai ASTM International.
  • Standar ASTM internasional adalah alat untuk memenuhi kepuasan pelanggan dan daya saing perusahaan di berbagai pasar. Melalui 143 komite teknis, ASTM menyusun standar untuk melayani beragam industri mulai dari industri logam untuk konstruksi, minyak bumi untuk produk konsumen, dan banyak lagi.
  • Dalam arena perdagangan global, standar ASTM International adalah paspor untuk strategi perdagangan yang sukses. Kualitas tinggi, standar ASTM relevan kebutuhan pasar, dikembangkan sesuai dengan prinsip-prinsip dari Organisasi Perdagangan Dunia.
  • ASTM International juga menawarkan program teknis pelatihan untuk industri dan pemerintah, serta uji profisiensi, program crosscheck antar laboratorium dan program sertifikasi yang baru dimulai, yang mendukung produsen, pengguna, peneliti dan laboratorium di seluruh dunia.
  • Kantor pusat ASTM International dunia terletak di Philadelphia, Pa. Selain kantor pusat, ASTM juga memiliki kantor di Belgia, Kanada, Cina, Meksiko dan Washington D.C.

Contoh standar ASTM:

D1765 – 13 Standard Classification System for Carbon Blacks Used in Rubber Products
D7849 – 14 Standard Classification for Nomenclature of Reference Materials of Committee D24
D1508 – 12 Standard Test Method for Carbon Black, Pelleted Fines and Attrition
D1511 – 12 Standard Test Method for Carbon Black—Pellet Size Distribution
D1937 – 13 Standard Test Method for Carbon Black, Pelleted—Mass Strength

 

AOAC (Association of Official Agricultural Chemists)

AOAC INTERNATIONAL adalah asosiasi ilmiah nirlaba dengan kantor pusat di Gaithersburg, Maryland, Amerika Serikat. AOAC ini menerbitkan metode analisis kimia terstandar yang dirancang untuk meningkatkan kepercayaan dalam hasil analisis kimia dan mikrobiologi. Instansi pemerintah dan organisasi sipil sering mengharuskan laboratorium menggunakan metode AOAC resmi.

AOAC INTERNATIONAL, didirikan pada 8 September 1884 sebagai Association of Official Agricultural Chemists oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat, untuk menetapkan metode analisis kimia seragam untuk menganalisis pupuk. Pada tahun 1965, nama AOAC berubah ke Association of Analytical Communities yang mencerminkan ruang lingkup luar pertanian. Pada tahun 1991, namanya diubah lagi menjadi AOAC INTERNATIONAL yang bukan singkatan.

Kontribusi AOAC INTERNATIONAL berpusat pada penciptaan, validasi, dan publikasi global metode uji analisis yang handal, terutama untuk mengevaluasi keamanan makanan, minuman, suplemen makanan, dan bahan serupa dikonsumsi oleh manusia dan hewan, atau untuk mengevaluasi kemurnian bahan yang digunakan dalam produksi bahan makanan dan bahan-bahan mereka. Cara uji ini terdiri dari dua kategori besar: tes kimia (misalnya, vitamin atau pestisida) dan tes mikrobiologi (misalnya, untuk agen pembusukan atau agen ancaman biologis). AOAC International memiliki anggota lebih dari 3.000 anggota di seluruh dunia.

Dokumen Standar sebagai Referensi Ilmiah (4)

 

Standar Nasional

 

Standar Nasional SNI (Standar Nasional Indonesia)

Standar Nasional Indonesia (disingkat SNI) adalah satu-satunya standar yang berlaku secara nasional di Indonesia. SNI dirumuskan oleh Panitia (komite) Teknis dan ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN). Proses pengembangan standar diatur dengan Pedoman Standardisasi Nasional (PSN) yang merupakan turunan dari PP 102 tahun 2007. Adanya PSN ini diamanatkan oleh pasal 5 ayat (1) PP 102 tahun 2007 yang berbunyi: Badan Standardisasi Nasional menyusun dan menetapkan Sistem Standardisasi Nasional dan Pedoman di bidang standardisasi nasional. Pedoman yang mengatur proses pengembangan standar di Indonesia diatur menggunakan PSN 01:2007. Perumusan SNI dilaksanakan melalui Program Nasional Perumusan Standar (PNPS) dengan mengacu kepada beberapa Pedoman Standardisasi Nasional (PSN) seperti:

  1. PSN 01:2007 Pengembangan Standar Nasional Indonesia;
  2. PSN 02:2007 Pengelolaan Panitia Teknis Perumusan SNI;
  3. PSN 03:2007 Adopsi Standar ISO/IEC menjadi SNI;
  4. PSN 08:2007 Penulisan SNI; serta
  5. Pedoman PSN atau Pedoman KAN atau ketentuan lain yang relevan sesuai kebutuhan serta kepustakaan penunjang.

Tahapan pengembangan SNI menurut PSN 01 2007 (BSN, 2007) terdiri 6 tahap sebagai berikut:

  1. Penyusunan konsep (drafting) yang dilakukan oleh panitia teknis/ sub panitia teknis (dibantu oleh pakar). Tahapan ini akan menghasilkan Rancangan SNI 1 disingkat RSNI 1 (keterangan: Sesuai dengan UU 20 tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian Panitia Teknis diganti menjadi Komite Teknis begitu juga dengan Sub Panitia Teknis menjadi Sub Komite Teknis)
  2. Rapat teknis yang dilakukan oleh panitia teknis/sub panitia teknis, serta diikuti juga oleh Tenaga Ahli Standardisasi (TAS). Rapat teknis ini membahas RSNI 1. Penyempurnaan RSNI 1 oleh rapat teknis ini akan menghasilkan RSNI 2.
  3. Rapat Konsensus yang diikuti oleh panitia teknis/sub panitia teknis dan anggota TAS serta bila diperlukan dapat mengundang pakar. Rapat ini meng”konsensus”kan RSNI 2. Jika tercapai konsensus, maka rapat ini menghasilkan RSNI 3.
  4. Jajag Pendapat (melalui media elektronik) adalah tahap dimana RSNI 3 disebarkan ke masyarakat untuk mendapatkan tanggapan dari masyarakat (Masyarakat Standardisasi). Tahap Jajag pendapat ini dilakukan oleh BSN melalui Sistem Informasi SNI (SISNI). Tahap ini akan menghasilkan RSNI 4 yaitu penyempurnaan RSNI 3 sesuai dengan masukan dari masyarakat.
  5. Pemungutan Suara, yaitu tahap dengan tujuan untuk memperoleh persetujuan atas RSNI 4 yang disebarkan kepada masyarakat. Jika memeuhi syarat persetujuan, maka RSNI 4 tersebut menjadi Rancangan Akhir SNI (RASNI) yang siap ditetapkan menjadi SNI.
  6. Penetapan, merupakan akhir proses dari keseluruhan proses perumusan SNI. Setelah diberi nomor dengan peraturan penomoran yang sesuai (PSN 06:2007) maka RASNI tersebut ditetapkan menjadi SNI dan siap dipublikasi dan disebarluaskan kepada masyarakat.

Agar SNI memperoleh keberterimaan yang luas antara para stakeholder, maka SNI dirumuskan dengan memenuhi WTO Code of good practice, yaitu:

  • Openess (keterbukaan): Terbuka bagi agar semua stakeholder yang berkepentingan dapat berpartisipasi dalam pengembangan SNI;
  • Transparency (transparansi): Transparan agar semua stakeholder yang berkepentingan dapat mengikuti perkembangan SNI mulai dari tahap pemrograman dan perumusan sampai ke tahap penetapannya . Dan dapat dengan mudah memperoleh semua informsi yang berkaitan dengan pengembangan SNI;
  • Consensus and impartiality (konsensus dan tidak memihak): Tidak memihak dan konsensus agar semua stakeholder dapat menyalurkan kepentingannya dan diperlakukan secara adil;
  • Effectiveness and relevance: Efektif dan relevan agar dapat memfasilitasi perdagangan karena memperhatikan kebutuhan pasar dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
  • Coherence: Koheren dengan pengembangan standar internasional agar perkembangan pasar negara kita tidak terisolasi dari perkembangan pasar global dan memperlancar perdagangan internasional; dan
  • Development dimension (berdimensi pembangunan): Berdimensi pembangunan agar memperhatikan kepentingan publik dan kepentingan nasional dalam meningkatkan daya saing perekonomian nasional.

Jumlah SNI yang telah ditetapkan BSN sebanyak 9.817 standar. Namun dari 9.817 standar tersebut sebagian telah ditarik dari peredaran (abolisi) karena dianggap tidak diperlukan lagi atau tidak sesuai dengan kebutuhan perkembangan jaman. Sebagian sudah direvisi dan sebagian lagi masih dalam proses kaji ulang. Jumlah SNI yang aktif saat ini adalah 7.989 (data per April 2014). Seperti standar-standar lain di dunia, maka untuk mendapatkan SNI para pemakai harus membeli. Tarif SNI diatur melalui PP 62 tahun 2007. Semua pendapatan dari penjualan SNI dan standar lain disetorkan ke kas negara. Namun demikian, untuk mendorong penggunaan SNI terbaru, maka BSN melakukan kebijakan menyediakan SNI yang baru ditetapkan di web BSN (SISNI) selama satu tahun untuk dimanfaatkan oleh masyarakat. Untuk mengetahui SNI yang telah ditetapkan oleh BSN pemakai dapat mengakses sistem informasi SNI di http://sisni.bsn.go.id/.

Contoh SNI orsinil yang ditetapkan oleh Indonesia adalah sebagai berikut:

  • SNI 7962:2014 Deteksi betanodavirus penyebab viral nervous necrosis (VNN) dengan metode quantitative (real-time) reverse transcription – polymerase chain reaction (RT-qPCR) menggunakan hydrolysis probe
  • SNI 7958:2014 Prosedur surveilans penyakit pada udang penaeid
  • SNI 7626.3:2014 Cara uji migrasi zat kontak pangan dari kemasan pangan – Bagian 3 : Plastik Polivinil Klorida (PVC), migrasi senyawa ftalat
  • SNI 7330:2009 Perpustakaan perguruan tinggi SNI 7968:2014 Tuna loin masak beku.

Contoh SNI hasil penetapan adopsi dari ISO maupun dengan ISO dan IEC:

  • SNI ISO 9001:2008(E) Sistem manajemen mutu – Persyaratan (Quality management systems – Requirements)
  • SNI ISO/IEC 5218:2014 Teknologi informasi – Kode representasi jenis kelamin manusia (ISO/IEC 5218:2004, IDT) (Information Technology – Codes for the representation of human sexes (ISO/IEC 5218:2004, IDT))
  • SNI ISO/IEC 27032:2014 Teknologi Informasi — Teknik keamanan — Pedoman keamanan siber (ISO/IEC 27032:2012, IDT) (Information technology — Security techniques — Guidelines for cybersecurity (ISO/IEC 27032:2012, IDT)) SNI IEC 62115:2011 Mainan elektrik – Keamanan (Electric toys – Safety)
  • SNI ISO 8124-1:2010 Keamanan mainan – Bagian 1: Aspek keamanan yang berhubungan dengan sifat fisis dan mekanis (Safety of toys – part 1: safety aspects related to mechanical and physical properties).

 

DIN (Deutsches Institut für Normung)

DIN adalah lembaga standar Jerman bertugas untuk mendorong, mengatur, mengarahkan kegiatan standardisasi dan spesifikasi dalam prosedur sistematis dan transparan untuk kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Hasil kerja DIN adalah untuk memajukan inovasi, keamanan dan komunikasi antar industri, organisasi penelitian, sektor publik dan masyarakat secara keseluruhan, dan untuk mendukung jaminan kualitas, rasionalisasi, kesehatan dan keselamatan kerja, dan perlindungan lingkungan hidup dan konsumen.

DIN menerbitkan standar dan mempromosikannya. Kegiatan ini melibatkan sekitar 30.000 ahli yang menyumbangkan ketrampilan dan ilmunya untuk proses standarisasi yang dikelola dan dikoordinasikan oleh staf DIN yang berjumlah sekitar 400 orang. DIN adalah badan standar nasional Jerman yang diakui mewakili kepentingan Jerman dalam organisasi standar Eropa dan internasional. Sembilan puluh persen dari standar saat ini yang dihasilkan oleh DIN bersifat internasional.

Contoh Standar DIN:

  • DIN EN 13445-3 Unfired pressure vessels – Part 3: Design
  • DIN EN 13480-3 Metallic industrial piping – Part 3: Design and calculation
  • DIN EN ISO 14001 Environmental management systems
  • DIN EN ISO 9001 is the only available tri-lingual version (English – French – German)
  • DIN ISO 10005:2009-05 Qualitätsmanagementsysteme – Leitfaden für Qualitätsmanagementpläne (ISO 10005:2005); Text Deutsch, Englisch und Französisch

 

BS (British Standards)

British Standards adalah suatu standar yang diterbitkan oleh BSI (British Standards Institution). Keberadaannya dinyatakan dalam suatu Royal Charter dan secara formal ditunjuk sebagai badan standardisasi nasional (national standards body) untuk Inggris Raya (UK). BSI Group dimulai pada tahun 1901 dengan nama Engineering Standards Committee untuk menstandardisasi industri besi untuk membuat pabrikan Inggris Raya lebih efisien dan kompetitif. Dengan berjalannya waktu, standar berkembang ke berbagai aspek rekayasa, termasuk sistem kualitas, keselamatan, dan keamanan.

BSI menghasilkan standar Inggris (British Standards), dan seperti Badan Standardisasi Nasional umumnya, BSI juga bertanggung jawab untuk mempublikasikan standar Inggris dan standar eropa dan internasional lainnya, dalam bahasa Inggris. BSI wajib mengadopsi dan menerbitkan semua Standar Eropa sebagai standar identik dengan Standards Inggris (diawali dengan BS EN) dan menarik standar Ingris yang ada namun bertentangan dengan standar Eropa. Namun, ia memiliki pilihan untuk mengadopsi dan menerbitkan standar internasional (BS diawali ISO atau BS IEC).

Merespon tuntutan komersial, BSI juga menghasilkan standar produk seperti Spesifikasi, Standar Swasta dan publikasi Informasi Bisnis. Produk-produk ini dimandatkan oleh organisasi individu dan asosiasi perdagangan untuk memenuhi kebutuhan mereka untuk spesifikasi standar, pedoman, kode praktek dll. BSI juga menerbitkan buku-standar terkait, CD-ROM, produk berlangganan dan solusi berbasis web serta memberikan pelatihan tentang isu-isu standar yang terkait.

Contoh Standar BS antara lain adalah:

  • BS ISO 55000:2014 Asset management. Overview, principles and terminology
  • BS ISO 55001:2014 Asset management. Management systems. Requirements
  • BS EN ISO 9001:2008 Quality management systems. Requirements
  • BS ISO 22301:2012 Societal security. Business continuity management systems. Requirements
  • BS EN ISO 14971:2012 Medical devices. Application of risk management to medical devices.

Pengguna yang membutuhkan standar BS dapat mengakses situs webstorenya BS di http://shop.bsigroup.com/

 

JIS (Japanese Industrial Standards)

JIS (Japanese Industrial Standards) adalah standar yang diberlakukan di wilayah Jepang. Proses standardisasi dikoordinasikan oleh Komite Standar Industri Jepang (Japanese Industrial Standards Committee) dan dipublikasikan melalui Asosiasi Standards Jepang (JSA/ Japanese Standards Association). JSA mengembangkan rancangan JIS di berbagai bidang. JSA juga mengembangkan JIS di bidang yang sangat teknis bekerjasama dengan organisasi industri dan lainnya yang terkait. Penjualan dokumen standar Jepang dilakukan melalui “web store”nya JSA yang beralamat URL di http://www.webstore.jsa.or.jp/webstore/Top/indexEn.jsp.

“Web store”nya JSA adalah situs pencarian/ penjualan standar dan publikasi JSA (dalam berbagai format: buku, file elektronik, video, dan publikasi lainnya) yang ditawarkan oleh JSA. “Web store”nya JSA ini terbuka untuk semua pengguna yang membutuhkan dokumen JIS.

Contoh standar JIS:

  • JIS A 8202-2:2007 Tunnelling machines — Safety — Part 2: Requirements for partial face tunnelling machines
  • JIS R 4302:1993 Testing method for determining pickling weight loss of sheet steel for vitreous and porcelain enamelling
  • JIS W 7001:1991 Aerospace — Characteristics of aircraft electrical systems
  • JIS X 9004:1983 Printing specifications for optical character recognition
  • JIS X 9010:1984 Coding of machine readable characters (OCR and MICR).

 

Dokumen standar sebagai referensi ilmiah (3)

Sebagaimana dijanjikan pada posting yang lalu, maka kali ini saya akan meneruskan posting saya dengan topik mengenai jenis-jenis Standar Internasional. Paling tidak ada tiga standar internasional yang penting untuk diketahui oleh pustakawan yaitu Standar ISO, Standar IEC, dan Standar CAC atau dikenal dengan nama Standar Codex. Standar-standar tersebut paling banyak digunakan oleh industri dan para pelaku usaha.

Standar Internasional

ISO (International Organization for Standardization)

ISO (International Organization for Standardization) adalah pengembang Standar Internasional sukarela terbesar di dunia. Standar Internasional memberikan informasi kondisi terkini untuk spesifikasi produk, jasa dan cara melakukan sesuatu, untuk membantu industri menjadi lebih efisien dan efektif. Standard ISO dikembangkan melalui konsensus global dimana standard ini dikembangkan untuk mengatasi hambatan perdagangan internasional.

Sejak didirikannya ISO telah mengembangkan lebih dari 19.500 Standar Internasional mencakup hampir semua aspek teknologi dan bisnis. Dari keamanan pangan sampai komputer, dan pertanian sampai kesehatan, Standar Internasional ISO memengaruhi semua kehidupan kita.

Produk utama ISO adalah standar internasional. Namun demikian ISO juga menerbitkan laporan teknis, spesifikasi teknis, panduan, dan lain-lain.

Penulisan standar ISO menggunakan format ISO [/ IEC] [/ ASTM] [IS] nnnnn [-p]: [yyyy] Title, di mana nnnnn adalah nomor standar, p adalah nomor bagian (opsional), yyyy adalah tahun diterbitkan , dan Judul menggambarkan subjek. IEC untuk International Electrotechnical Commission disertakan jika hasil standar merupakan karya ISO / IEC JTC1 (Komite Bersama Teknis ISO / IEC). ASTM (American Society for Testing dan Material) digunakan untuk standar dikembangkan dalam kerjasama dengan ASTM International. Tanggal dan IS tidak digunakan untuk standar yang tidak lengkap atau tidak diterbitkan.

Beberapa contoh standar ISO adalah:

ISO 9001 Quality management systems – Requirements
ISO 14001 Environmental management systems –
Requirements with guidance for use
ISO/IEC 27001 Information technology – Security techniques –
Information security management systems –
Requirements
ISO 31000:2009 Risk management – Principles and guidelines
ISO 50001:2011 Energy management systems –
Requirements with guidance for use

Dokumen ISO adalah adalah dokumen yang memiliki hak cipta dan ISO mengenakan biaya untuk mendapatkan salinan dari sebagian besar dokumen tersebut. Namun untuk mendapatkan draft ISO dalam format elektronik oleh sebagian masyarakat yang berkepentingan biasanya tidak dikenakan biaya. Meskipun demikian mereka tetap harus berhati-hati menggunakan draft tersebut karena kemungkinan ada perubahan substansial sebelum menjadi standar yang sah ditetapkan oleh ISO. Untuk beberapa perwakilan resmi ISO dan perwakilan resmi AS (dan, melalui Komite Nasional AS, International Electrotechnical Commission) standar ISO tersedia secara gratis.

iso-web

Karena standar ISO tersebut dilindungi oleh undang-undang hak cipta, maka sebagian besar standar ISO tersebut diperoleh hanya dengan cara membeli. Namun demikian ada sekitar 300 standar yang dipublikasi bersama antara ISO dengan IEC Joint Technical Committe disediakan gratis bagi masyarakat umum.

Untuk pembelian standar ISO Anda dapat mengakses webstore ISO di: http://www.iso.org/

IEC (International Electrotechnical Commission)

International Electrotechnical Commission (IEC) adalah organisasi internasional di bidang standardisasi non-pemerintah dan non-profit, yang mempersiapkan dan menerbitkan Standar Internasional untuk semua teknologi listrik, elektronik dan yang terkait – yang dikenal sebagai “electrotechnology”. Standar IEC mencakup berbagai macam teknologi dari pembangkit listrik, transmisi dan distribusi untuk peralatan rumah tangga dan peralatan kantor, semikonduktor, serat optik, baterai, energi surya, nanoteknologi dan energi kelautan dan lain-lainnya. IEC juga mengelola tiga sistem penilaian kesesuaian global yang menyatakan apakah peralatan, sistem atau komponen sesuai dengan Standar Internasionalnya.

The IEC charter mencakup semua teknologi elektro termasuk produksi energi dan distribusi, elektronik, magnet dan elektromagnetik, electroacoustics, multimedia, telekomunikasi dan teknologi medis, serta disiplin umum terkait seperti terminologi dan simbol, kompatibilitas elektromagnetik, pengukuran dan kinerja, kehandalan, desain dan pengembangan, keselamatan dan lingkungan.

IEC sudah menerbitkan standar sebanyak kurang lebih 6.200 standar. Format penomoran standar berkisar antara 60000-79999 dengan format judul seperti contoh berikut: IEC 60417: Graphical symbols for use on equipment. Sejumlah standar IEC lama dikonversi pada tahun 1997 dengan menambahkan 60000, misalnya IEC 27 menjadi IEC 60027.

IEC bekerja sama erat dengan International Organization for Standardization (ISO) dan International Telecommunication Union (ITU). Selain itu, IEC juga bekerja dengan beberapa organisasi pengembangan standar lainnya termasuk IEEE.

iec-web

Standar yang dikembangkan bersama-sama dengan ISO seperti ISO/IEC 26300, Open Document Format for Office Applications (OpenDocument) v1.0 carry the acronym of both organizations mencantumkan singkatan dari kedua organisasi. Penggunaan awalan ISO/IEC meliputi publikasi dari ISO/IEC Joint Technical Committee 1 on Information Technology, serta standar penilaian kesesuaian yang dikembangkan oleh ISO CASCO dan IEC CAB (Lembaga Penilaian Kesesuaian). Standar lain dikembangkan dalam kerjasama antara IEC dan ISO diberi seri nomor 80000, seperti IEC 82045-1.

Beberapa contoh standar IEC adalah sebagai berikut:

IEC 60027 Letter symbols to be used in electrical technology
IEC 60028 International standard of resistance for copper
IEC 60034 Rotating electrical machinery
IEC 80001 Application of risk management for IT-
networks incorporating medical devices
IEC 81346 Industrial systems, installations and
equipment and industrial products – Structuring
principles and reference designations

Web Standar IEC dapat diakses di URL: http://www.iec.ch/

CAC (Codex Alimentarius Commission)

Codex Alimentarius adalah kumpulan standar yang diakui secara internasional, codes of practice, pedoman dan rekomendasi lain yang berkaitan dengan makanan, produksi pangan dan keamanan pangan.

Namanya berasal dari Codex Alimentarius Austriacus, yang dikembangkan dan dikelola oleh Codex Alimentarius Commission, sebuah badan yang didirikan pada awal November 1961 oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) juga bergabung kemudian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada bulan Juni 1962, dan mengadakan sidang pertama di Roma pada Oktober 1963. Tujuan utama Komisi ini adalah untuk melindungi kesehatan konsumen dan memastikan praktek yang adil dalam perdagangan pangan internasional. Codex Alimentarius diakui oleh Organisasi Perdagangan Dunia sebagai referensi internasional untuk resolusi perselisihan tentang keamanan pangan dan perlindungan konsumen.

Pada 2012, ada 186 anggota Codex Alimentarius Commission: 186 negara anggota dan satu organisasi anggota yaitu European Union (EU). Ada 215 pengamat Codex:. 49 organisasi antar pemerintah, 150 organisasi non-pemerintah, dan 16 organisasi PBB.

cac-web

Codex Alimentarius mencakup semua makanan, baik olahan, semi-olahan atau mentah. Selain standar untuk makanan tertentu, Codex Alimentarius berisi standar umum yang mencakup hal-hal seperti label makanan, kebersihan makanan (food hygiene), makanan tambahan dan residu pestisida, dan prosedur untuk menilai keamanan makanan yang berasal dari bioteknologi modern. Selain itu juga berisi pedoman untuk pengelola resmi pemerintahan seperti sistem impor dan ekspor inspeksi dan sertifikasi untuk makanan oleh pemerintah.

Standar bidang umum CAC:

  • pelabelan Makanan (standar umum, pedoman pelabelan nutrisi, pedoman klaim pelabelan)
  • Makanan tambahan (Food additive) (standar umum termasuk penggunaan resmi, spesifikasi untuk bahan kimia food grade)
  • Kontaminan dalam makanan (standar umum, toleransi untuk kontaminan spesifik termasuk radionuklida, aflatoksin dan mikotoksin lainnya)
  • Pestisida dan residu kimia dalam makanan hewan (batas maksimum residu)
  • Prosedur penilaian risiko untuk menentukan keamanan makanan yang berasal dari bioteknologi (tanaman rekayasa DNA-, mikro-organisme yang dimodifikasi DNA-, alergen)
  • Kebersihan Makanan (prinsip-prinsip umum, kode praktek higienis dalam industri tertentu atau perusahaan penanganan makanan, pedoman penggunaan Hazard Analysis Critical Control Point atau “HACCP” sistem)
  • Metode analisis dan pengambilan sampel.

Standar bidang spesifik CAC:

  • produk daging (segar, beku, daging olahan dan unggas)
  • Ikan dan produk ikan (laut, air tawar dan budidaya)
  • Susu dan produk susu
  • Makanan untuk keperluan diet khusus (termasuk susu formula dan makanan bayi)
  • Sayuran segar dan olahan, buah-buahan, dan jus buah
  • Sereal dan produk turunan, kacang-kacangan kering
  • Lemak, minyak dan produk turunan seperti margarin
  • produk roti (coklat, gula, madu, air mineral)

Contoh standar CAC atau Codex adalah sebagai berikut:

CAC/GL 17-1993 Guideline Procedures for the Visual Inspection of
Lots of Canned Foods for Unacceptable Defects
CAC/GL 79-2012 Guidelines on the Application of General
Principles of Food Hygiene to the Control of Viruses in
Food
CODEX STAN 98-1981 Standard for Cooked Cured Chopped Meat
CAC/GL 81-2013 Guidance for governments on prioritizing
hazards in fed
CAC/CRP 54-2004 Code of Practice on Good Animal Feeding

Web Standar CAC dapat diakses di URL: http://www.codexalimentarius.org/

Dokumen Standar sebagai Referensi Ilmiah (2)

Posting yang lalu saya sudah menyampaikan tujuan dikembangkannya standar. Kali ini saya melanjutkan masih pada tujuan pengembangan standar…..

Tujuan Standar

Tujuan dikembangkannya suatu standar adalah standar menurut Buku Pengantar Standardisasi adalah (BSN, 2009) adalah:

  1. Kesesuaian untuk penggunaan tertentu (fitness for purpose)
  2. Kemampuan bertukar (interchangeability)
  3. Pengendalian keanekaragaman (variaty reduction)
  4. Kompatabilitas (compatability)
  5. Meningkatkan pemberdayaan sumberdaya
  6. Komunikasi dan pemahaman yang lebih baik
  7. Menjaga keamanan, keselamatan, dan kesehatan
  8. Pelestarian lingkungan
  9. Menjamin kepentingan konsumen dan masyarakat
  10. Mengurangi hambatan perdagangan

 

Lingkup Standar

Disekeliling kita tentunya ada bermacam-macam standar. Secara individu kita juga dapat menentukan standar ketika kita akan memilih sesuatu, misalnya saja ketika kita akan membeli baju maka kita akan menentukan standar baik mutu maupun harga yang sesuai dengan keinginan kita. Menurut wilayah operasinya maka standar dapat dibedakan menjadi 6 macam standar (BSN, 2009) seperti berikut:

  1. Standar individu atau standar perorangan, adalah standar yang dibuat, diterapkan, dievaluasi, direvisi, dikembangkan atau diabolisi oleh individu. Contoh standar seperti ini adalah standar tempat tinggal dll.
  2. Standar perusahaan, adalah standar yang dirumuskan dan digunakan oleh bagian (standardisasi) dalam suatu perusahaan dan diterapkan di perusahaan itu sendiri untuk mencapai tujuan perusahaan secara keseluruhan.
  3. Standar asosiasi, standar yang dirumuskan oleh organisasi atau asosiasi tertentu yang memiliki kepentingan untuk menerapkan standar tersebut di lingkungan masing-masing secara bersama. Banyak contoh standar ini seperti standar yang dikeluarkan oleh SAE (Society of Automotive Engineer), ASTM (American Society for Testing Materials) dan lain-lain.
  4. Standar nasional, adalah standar yang dirumuskan dengan mempertimbangkan kepentingan semua pihak terkait di wilayah kedaulatan suatu negara tertentu yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang yaitu lembaga standardisasi nasional (National Standard Body). Jenis standar ini banyak contohnya seperti: SNI (Indonesia), MS (Malaysian Standard), JIS (Japan Industrial Standards), ANSI (American National Standard Institute), dan lain-lain.
  5. Standar regional, adalah standar yang dirumuskan dengan mempertimbangkan kepentingan berbagai negara dalam suatu wilayah ekonomi, politik, geografi tertentu yang serupa atau menghasilkan komoditas yang sama atau memiliki ikatan perdagangan tertentu. Contoh-contoh standar jenis ini misalnya: CEN (Eropa), Standar-standar yang diberlakukan di ASEAN (ACCSQ/ Asean Consultative Committee for Standard and Quality), Negara-negara Arab (ASMO/ Arab Organization for Standardization).
  6. Standar internasional, standar yang diberlakukan sesuai dengan kesepakatan pada level internasional. Kesepakatan ini dilakukan oleh berbagai negara melalui wakil-wakilnya yaitu lembaga standar nasional masing-masing negaranya. Contoh standar ini seperti: standar ISO (International Organization for Standardization), standar IEC (International Electrotechnical Commission), Standar ITU (International Telecommunication Union), CAC (Codex Alimentarius Commission).

 

Berbagai macam standar

Untuk mengoleksi dokumen/ informasi standar, tentu pustakawan perlu mengetahui apa sesungguhnya standar tersebut dan sumber informasi mana yang berisi standar sesuai dengan peruntukannya. Standar menurut PP Nomor 102 Tahun 2000 (Peraturan Pemerintah RI nomor 102 tahun 2000 tentang Standardisasi) didefinisikan sebagai berikut: Standar adalah spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait dengan memerhatikan syarat-syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengalaman, perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya (pasal 1 ayat (1) PP 102 tahun 2000). Pada Peraturan Pemerintah yang sama pada pasal 1 ayat (2) mendefinikan SNI sebagai berikut: Standar Nasional Indonesia atau SNI adalah standar yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional dan berlaku secara nasional. Dengan dua pengaturan oleh Peraturan Pemerintah di atas maka dapat dikatakan bahwa suatu standar nasional yang diberlakukan secara nasional di Indonesia harus ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional. Sedangkan menurut Undang-undang nomor 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian, Standar adalah persyaratan teknis atau sesuatu yang dibakukan, termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak/ pemerintah/ keputusan internasional yang terkait dengan memperhatikan syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengalaman, serta perkembangan masa depan untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya (BSN, 2014). Berbagai macam standar yang harus diketahui oleh pustakawan setidaknya adalah:

  1. Standar Internasional seperti ISO, IEC, CAC
  2. Standar Nasional seperti SNI, DIN, BS, JIS, ANSI, dll
  3. Standar Asosiasi seperti ASTM, SAE, dll

 

Sampai disini dahulu pembahasan tentang standar. Posting yang akan datang saya akan menyampaikan lebih rinci mengenai berbagai macam standar tersebut.

Dokumen Standar sebagai Referensi Ilmiah (1)

Pendahuluan

Sebagaimana diketahui oleh banyak kolega saya bahwa sejak 9 Maret 2012 saya, atas permintaan BSN,  ditugaskan oleh Rektor IPB untuk membantu Badan Standardisasi Nasional (BSN) sebagai Kepala Pusat Informasi dan Dokumentasi Standardisasi. Awalnya saya berpikir bahwa saya akan mengerjakan tugas-tugas seperti layaknya ketika saya menjadi Kepala Perpustakaan di IPB. Betul dugaan saya, banyak pekerjaan yang sama dengan tugas-tugas saya yang lama. Namun, ternyata banyak lagi tugas yang baru dimana tugas baru itu memerlukan penguasaan saya dalam bidang ilmu atau pengetahuan standardisasi. Banyak istilah-istilah baru yang harus saya hafalkan seperti penilaian kesesuaian atau conformity assessment, sertifikasi, metrologi legal, dan lain sebagainya. Saya juga harus menguasai klasifikasi baru di bidang standardisasi yaitu ICS atau International Classification for Standardization. Dulu saya hanya mengenal klasifikasi DDC, UDC, dan LC. Kini ada ICS.

Baiklah, semua itu hanya sebagai pengantar atau latar belakang dalam tulisan saya kali ini. Yang ingin saya bagi kepada para pembaca blog saya adalah dalam dunia informasi ini ada dokumen bernama standar yang hemat saya harus juga menjadi koleksi sebuah perpustakaan, khususnya perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan pusat penelitian. Mengapa demikian? Karena dokumen ini berisi informasi yang sangat penting bagi para peneliti, mahasiswa dan dosen sebagai referensi ilmiah mereka. Sebagai pustakawan, kita harus tahu apa sebenarnya isi dokumen standar tersebut. Bahkan jika memungkinkan kita perlu pelajari mengapa standar itu penting sehingga banyak diperlukan oleh para pemustaka. Dengan mengetahui “binatang” apa sebenarnya standar tersebut, maka sebagai pustakawan kita akan dapat membantu pemustaka menyediakan informasi yang mereka butuhkan. 

 

Potensi Kebutuhan Informasi Standar di Perguruan Tinggi

Tentang banyaknya pemakai dokumen standar ini di IPB ada buktinya. Hasil penelitian pustakawan IPB terhadap skripsi mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian tahun 2010-2012 (3 tahun), membuktikan bahwa sebanyak lebih dari 50 % skripsi mahasiswa tersebut mengutip dokumen standar.

Dengan banyaknya penggunaan dokumen standar tersebut, saya rasa sudah waktunya perpustakaan menjadikan dokumen standar sebagai salah satu jenis koleksi yang harus dibina. Untuk mengetahui lebih jauh apa sebenarnya dokumen standar tersebut, saya ingin berbagi pengetahuan tentang standar dan arti penting peran standar bagi dunia, khususnya dunia perdagangan dan industri, dan umumnya bagi kepentingan dunia. Kita akan mulai dengan membedah apa sebenarnya standar tersebut. Istilah standar menurut Sunarya diartikan sebagai: “Dokumen tertulis yang berisi spesifikasi/ ketentuan teknis yang digunakan secara berulang dan disepakati secara konsensus oleh pihak-pihak yang mempengaruhi pasar (produsen dan konsumen) yang juga melibatkan fasilitator, yaitu regulator dan para pakar” (Sunarya S. , 2012). Selanjutnya menurut Undang-undang nomor 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian, Standar didefinisikan sebagai persyaratan teknis atau sesuatu yang dibakukan, termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak/ pemerintah/ keputusan internasional yang terkait dengan memperhatikan syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengalaman, serta perkembangan masa depan untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya (BSN, 2014). Kita dapat melihat contoh-contoh standar seperti:

  • Standar mengenai helm pengendara kendaraan bermotor roda dua (SNI 1811:2007);
  • Standar mengenai air minum dalam kemasan (SNI 01-3553-2006);
  • Standar mengenai sistem manajemen mutu (SNI ISO 9001:2008);
  • Standar Perpustakaan Perguruan Tinggi (SNI 7330:2009); dan
  • Masih banyak lagi standar-standar lain.

 

Tujuan Standar

Mengapa standar tersebut dibuat oleh orang dan apa sebenarnya tujuan dibuatnya standar? Tujuan dibuatnya stan­dar, yang dimengerti oleh masyarakat umum, adalah agar terjadi keteraturan dalam mengerjakan sesuatu. Peran standar adalah untuk memas­tikan bahwa produk dan layanan yang diberikan aman, handal dan berkualitas baik. Untuk bisnis, standar adalah alat strategis yang mengurangi biaya dengan meminimalkan limbah dan kesalahan, dan meningkatkan produktivitas. Dengan standar maka peru­sahaan akan terbantu dalam mengakses pasar baru (new market), tingkat lapangan bermain untuk negara-negara berkembang dan fasilitasi perdagangan global yang bebas dan adil (Sunarya S. , 2012). Sedangkan menurut Undang-undang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian (UU 20 tahun 2014), Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian dibuat dengan tujuan:

  • meningkatkan jaminan mutu, efisiensi produksi, daya saing nasional, persaingan usaha yang sehat dan transparan dalam perdagangan, kepastian usaha, dan kemampuan Pelaku Usaha, serta kemampuan inovasi teknologi;
  • meningkatkan perlindungan kepada konsumen, Pelaku Usaha, tenaga kerja, dan masyarakat lainnya, serta negara, baik dari aspek keselamatan, keamanan, kesehatan, maupun pelestarian fungsi lingkungan hidup; dan
  • meningkatkan kepastian, kelancaran, dan efisiensi transaksi perdagangan Barang dan/atau Jasa di dalam negeri dan luar negeri.

Pembaca. Sampai disini dulu pembahasan mengenai dokumen standar sebagai referensi ilmiah. Sengaja saya sampaikan sedikit demi sedikit sebagai artikel pendek agar pembaca tidak bosan dalam membaca. Saya akan sambung lagi pada tulisan yang akan datang.

Catatan dalam Mereview Artikel Bidang Kepustakawanan

Sudah cukup lama saya dipercaya untuk menjadi pemimpin redaksi maupun peer reviewer dari beberapa majalah bidang kepustakawanan. Pernah dalam satu periode saya memimpin tiga majalah bidang kepustakawan sekaligus. Banyak suka duka yang saya alami dalam memimpin majalah tersebut, dari sejak mencari kontributor artikel, mereview, sampai me-lay out majalah yang akan terbit. Maklum majalah bidang kepustakawanan ini bukanlah termasuk majalah yang dianggap bergengsi dan mendatangkan “rejeki” bagi pengelolanya. Karena itu tidak banyak orang yang mau menjadi pengelola terbitan ini. Namun bukan itu yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Beberapa tahun terakhir, ketika saya tidak lagi menjadi Pemimpin Redaksi majalah kepustakawanan, saya tetap dipercaya untuk menjadi mitra bestari (peer reviewer) dari beberapa majalah kepustakawanan. Saya ingin menuliskan beberapa hal yang saya temukan sehingga keputusan saya tidak meloloskan artikel yang dikirim oleh kontributor/ penulis ke meja redaksi. Harapan saya, penulis atau calon penulis dapat belajar dari pengalaman tersebut sehingga tulisan mereka dapat lebih mudah diterima oleh redaksi majalah. Hal-hal yang saya temukan tersebut antara lain sebagai berikut:

  1. Artikel terlalu sederhana dan hanya menyampaikan deskripsi fakta/ sejarah saja. Untuk majalah yang sedang berusaha mendapatkan status Jurnal Terakreditasi, maka artikel seperti ini akan sulit diloloskan. Artikel yang akan lolos harus memiliki pendekatan ilmiah yang kuat seperti memiliki metodologi yang tepat, menampilkan data yang relevan dan mutakhir, pendekatan teori yang tepat, analisis yang kuat, serta menawarkan pemecahan masalah yang baik.
  2. Topik artikel yang tidak sesuai dengan tema majalah. Misalnya tema majalah berfokus pada Teknologi Informasi, namun artikel yang dikirim bertemakan pengembangan SDM, atau juga sebaliknya. Tentu saja majalah tersebut akan menolak artikel yang tidak sesuai dengan tema majalahnya.
  3. Artikel hanya bersifat opini yang tidak disertai dengan penelitian literatur yang mendalam. Literatur yang dikirim ke meja redaksi tidak harus selalu hasil penelitian lapangan. Opini yang didukung oleh penelitian literatur yang lengkap dan mendalam bisa saja diterima untuk diterbitkan.
  4. Terkadang artikel yang masuk bukanlah artikel yang matang dan siap cetak. Misalnya artikel yang masuk tersebut masih banyak salah ketik, tidak mengikuti kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, masih bercampur bahasa lisan, kalimat yang terlalu panjang sehingga tidak diketahui mana subyek dan mana predikatnya, kalimat yang tidak selesai, dan lain-lain.
  5. Format yang tidak mengikuti aturan gaya selingkung majalah tersebut. Misalnya, penulisan abstrak yang tidak sesuai, spasi yang tidak mengikuti aturan, jenis huruf atau font yang tidak sesuai, ukuran huruf/ font yang terlalu besar atau terlalu kecil, nomor halaman yang tidak ada, teknik kutipan dan penulisannya yang tidak mengikuti aturan, penulisan tabel yang tidak sesuai, tampilan gambar yang kurang benar, penulisan daftar pustaka yang tidak mengikuti aturan, dan lain-lain.

Subyektifitas penilaian sudah sangat diperkecil dengan cara mitra bestari tidak diberitahu penulis artikel yang akan dinilai. Namun demikian subyektifitas tetap tidak dapat dihilangkan 100 %. Biasanya penilaian dipengaruhi oleh penglihatan pertama pada artikel tersebut. Jika pada awal tulisan sudah banyak menemukan kesalahan (seperti kesalahan ketik atau kalimat yang tidak sesuai kaidah Bahasa Indonesia), maka penilaian selanjutnya akan semakin ketat, karena kesalahan-kesalahan diawal tersebut menunjukkan kualitas tulisan tersebut.

Berdasarkan temuan saya sebagai peer reviewer tersebut, sebaiknya penulis, terutama penulis pemula, hendaknya bisa  lebih berhati-hati dalam menulis. Nasihat saya yang sering saya berikan kepada mahasiswa saya ketika mereka diberi tugas menulis baik paper maupun tesis adalah jangan membuat kesalahan yang tidak perlu. Misalnya, penulis harus berhati-hati dalam mengetik agar tidak ada ketikan yang salah. Buat kalimat pendek-pendek sehingga jelas mana subyek dan mana predikat. Ikuti aturan penulisan dari majalah tersebut yang biasanya dimuat di bagian dalam kover belakang. Akhirnya, jangan berputus asa bila tulisannya ditolak pada kesempatan pertama mengirim artikel. Saya sendiri harus menunggu 10 tahun sejak pertama kali mengirimkan artikel dan baru dimuat setelah penantian yang panjang.

 

Pamit

Hari ini adalah sidang pleno terakhir tim penilai JFP tingkat pusat periode 2010-2013. Memang agak terlambat penggantian tim ini. Seharusnya tahun lalu tim ini sudah dibubarkan dan diganti dengan tim yang baru. Tentu saja anggotanya bisa terdiri dari anggota lama yang terpilih kembali dan anggota baru menggantikan anggota lama yang tidak terpilih lagi. Saya sendiri cukup lama menjadi anggota tim penilai JFP tingkat pusat. Tidak kurang dari 7 tahun saya berkutat dengan persoalan-persoalan DUPAK dari pustakawan yang akan naik pangkat dan jabatan. Dari pekerjaan ini saya banyak belajar karakter dan perilaku pustakawan dan bagaimana saya harus bersikap dan memutuskan. Tidak mudah memang untuk mengambil keputusan. Ada perang dalam hati sebelum akhirnya menjatuhkan keputusan. Mungkin itu juga yang dialami oleh para hakim ketika harus memutuskan perkara. Anda bisa bayangkan jika Anda mendapatkan bukti bahwa seorang pustakawan melakukan ketidak jujuran dalam mengajukan DUPAK dan Anda harus menjatuhkan keputusan harus menolak usulan pustakawan tersebut, sementara pustakawan tersebut sudah diambang batas waktu dimana pustakawan tersebut harus diberhentikan dari jabatan pustakawan jika usulannya ditolak. Ditolak, pustakawan tersebut diberhentikan dari jabatan pustakawan. Sedangkan jika diloloskan, Anda melanggar aturan yang telah ditetapkan. Posisi itulah yang sering saya hadapi. Saya sering harus (dan tentu saja dengan amat sangat terpaksa) mengambil keputusan yang menyakitkan bagi pustakawan karena saya harus berpegang teguh kepada aturan main yang sudah ditetapkan.

Hari ini, pada sidang pleno terakhir tim penilai periode 2010-2013 saya harus melakukan hal yang tidak saya sukai. Verifikasi hasil penilaian yang saya bawa ke sidang pleno sangat banyak yang tidak lolos. Dari sembilan berkas, hanya tiga yang lolos. Namun tentu saja saya memiliki bukti bahwa AK yang mereka usulkan memang banyak yang tidak sesuai dengan aturan sehingga terpaksa ditolak. Sebagian usulan yang ditolak tersebut karena perbedaan persepsi terhadap aturan yang diberlakukan. Misalnya, pustakawan menghitung jumlah judul entri pada kegiatan layanan informasi terseleksi, sementara tim penilai menghitung jumlah judul topik pada kegiatan yang sama. Hal ini bisa terjadi karena dalam Kepmenpan tidak secara tegas disebutkan judul topik, sehingga menimbulkan persepsi yang berbeda. Sebagian lagi ditolak karena kegiatan yang menghasilkan AK kredit tersebut tidak logis sehingga dianggap mengada-ada. Misalnya, kegiatan memberikan memberikan konsultasi bersifat konsep kepada 24 perpustakaan dengan pertanyaan atau persoalan yang sama persis sehingga jawabannya kepada 24 perpustakaan tersebut dibuat sama. Bahkan kesalahan ketiknyapun yang terdapat pada jawaban yang diberikan kepada 24 perpustakaan tersebut sama. Hal ini bisa terjadi karena pustakawan yang bersangkutan tidak punya integritas dan profesionalisme dalam memangku jabatan pustakawan. Jika ini terjadi,  tindakan apa yang akan Anda lakukan selain menolak AK yang berasal dari usulan kegiatan ini. Apalagi jika hal ini terjadi kepada pustakawan utama. Semestinya pustakawan utama memberikan teladan kepada pustakawan yang lebih yunior dalam meniti karir kepustakawanannya. Jika tidak, maka bisa terjadi seperti peribahasa “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.

Masih banyak bukti-bukti ketidak jujuran pustakawan dalam mengusulkan AK kredit. Sebut saja mengambil karya tulis orang lain dan mengganti nama pengarangnya menjadi namanya sendiri. Mengusulkan karya tulis yang melebihi kemampuan rata-rata orang menulis, misalnya dalam 10 hari seorang pustakawan dapat mengusulkan 30 karya tulis, atau pustakawan yang lain dalam sehari mampu menulis tiga artikel. Saya harus menjatuhkan keputusan memberi nilai atau menolak terhadap usulan yang diduga tidak jujur tersebut. Alhamdulillah, Tuhan memberi petunjuk kepada saya. Karya yang dibuat dengan cara yang tidak jujur tersebut meninggalkan jejak sebagai bukti ketidak jujuran mereka. Dengan petunjuk itu saya dapat memberikan keputusan yang adil (tentu saja menurut saya).

Tentu saja dari puluhan orang yang berkasnya saya verifikasi, tidak semuanya seperti yang saya sebut di atas. Banyak juga yang mengusulkan DUPAKnya dengan jujur dan benar. Banyak juga yang sekali usul langsung lolos. Tapi ada juga yang harus berkali-kali mengusulkan DUPAK baru lolos.

Oleh karena itu, pada akhir masa bakti saya sebagai anggota tim penilai 2010-2013 saya ingin mengucapkan permohonan maaf kepada pustakawan yang mungkin berkasnya pernah saya verifikasi (nilai) dan harus berulang-ulang mengusulkan kembali tambahan AK untuk lolos. Saya melakukan verifikasi ketat tersebut tidak lain hanya karena saya merindukan kualitas pustakawan yang baik sehingga dapat dihargai oleh para pemangku kepentingan perpustakaan, dan pustakawan sebagai profesi memiliki posisi yang tidak kalah pentingnya dari posisi profesi-profesi lain.

Indikator Kinerja Perpustakaan Menurut ISO 11620: 2008 (bagian 2 dari dua tulisan)

Karya tulis ini dimuat dalam Media Pustakawan Vol. 20 nomor 3 tahun 2013, hal. 12-21. Ringkasan tulisan ini adalah sebagai berikut:

Mengukur kinerja sebuah perpustakaan merupakan upaya untuk mengetahui pencapaian perpustakaan tersebut terhadap visi, misi, dan tujuan perpustakaan. Sejak tahun 1998 ISO telah menerbitkan standar cara mengukur indikator kinerja perpustakaan yaitu dengan menerbitkan ISO 11620:1998. Sesuai dengan perkembangan layanan yang ada di perpustakaan standar ISO tersebut sudah tidak dapat mengakomodir indikator-indikator kinerja baru, khususnya kinerja yang berkaitan dengan layanan elektronik dan digital. Oleh karena itu ISO merevisi standar yang diterbitkannya tahun 1998 tersebut menjadi standar ISO 11620:2008. ISO 11620: 2008 mengukur indikator sebanyak 45 indikator. Makalah ini adalah bagian dua dari dua tulisan yang akan membahas bagaimana cara mengukur ke 45 indikator kinerja tersebut.

Analisis Pemanfaatan Jurnal Online ScienceDirect di Perpustakaan IPB (Studi Kasus pada Mahasiswa Pascasarjana IPB)

Artikel dimuat di Visi Pustaka Volume 15 nomor 2 Tahun 2013 hal. 89-95

Abstract:

ScienceDirect online journal is a scholarly publication that presents the latest scientific information and has a strategic role in the development and dissemination of knowledge. To identify the factors that influence the willingness of students in the use of online journals in the Library ScienceDirect IPB used a research model adapted from a model study. This study is a type of quantitative research using a questionnaire survey in data collection. To examine the use ScienceDirect online journals used in the preparation of a thesis citation analysis method through the titles of articles in electronic journals that are used as references on each thesis. The results obtained that the number of respondents who use online journals ScienceDirect and its utilization rate is not maximized. Utilization rates as indicated by the frequency and number of articles downloaded is still low. Of the five factors tested their effects on motivation utilizing ScienceDirect online journals, ease of use factor is the most powerful influence that is equal to 33.27%, next is the quality of information (12.30%), followed by user friendly interface (24.3%) and most little effect is the ability to use computers (6.45%). While the relevance of the information content of the information needs of users with no effect on the motivation of the use of ScienceDirect online journal. As for the ScienceDirect online journals are much used as reference in preparing the student’s thesis is pascasarjana S2 IPB Aquaculture is equal to 38.68%.

Indikator Kinerja Perpustakaan Menurut ISO 11620: 2008 (bagian 1 dari dua tulisan)

Telah terbit artikel terbaru ARS di Media Pustakawan Volume 20 nomor 2 tahun 2013. Abstrak artikel tersebut adalah sebagai berikut:

Mengukur kinerja sebuah perpustakaan merupakan upaya untuk mengetahui pencapaian perpustakaan tersebut terhadap visi, misi, dan tujuan perpustakaan. Sejak tahun 1998 ISO telah menerbitkan standar cara mengukur indikator kinerja perpustakaan yaitu dengan menerbitkan ISO 11620:1998. Sesuai dengan perkembangan layanan yang ada di perpustakaan standar ISO tersebut sudah tidak dapat mengakomodir indikator-indikator kinerja baru, khususnya kinerja yang berkaitan dengan layanan elektronik dan digital. Oleh karena itu ISO merevisi standar yang diterbitkannya tahun 1998 tersebut menjadi standar ISO 11620:2008. Makalah ini akan terbit dua bagian (pada dua nomor yang terpisah). Bagian pertama dari tulisan ini memperkenalkan apa itu ISO 11620:2008 dengan menjelaskan indikator apa saja yang diukur.  Sedangkan bagian yang kedua akan membahas bagaimana cara mengukur indikator kinerja tersebut.


Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE